Play Video

Transportasi Logistik Udara

MEMBUKA DAERAH TERPENCIL MENUJU EKONOMI DUNIA

Transportasi logistik udara dengan partner Flying Whales, kami akan siap  untuk memberikan solusi optimal dalam dunia logistik dengan menggunakan layanan jasa transportasi logistik udara one stop solution yang akan menjadi
pilihan baru dalam dunia transportasi logistik di Indonesia.Kami melihat negara kita merupakan negara kepulauan dengan infrastruktur transportasi kargo yang ada masih sangat terbatas, dan kami ingin berpartisipasi mengatasi kesulitan transportasi logistik udara tersebut dengan cara bekerja sama dengan FLYING WHALES

Kapasitas Besar

60 ton titik ke titik tanpa dampak lingkungan

Efisien

Bongkar muat sambil melayang

Cepat

100km/jam take off dan landing vertikal

Aman

Struktur kaku untuk keamanan maximum oprasi

Ramah Lingkungan

Sel helum tanpa tekanan

Kami mendapat penunjukkan sebagai wakil Flying Whales di Indonesia untuk menjalankan kegiatan pengenalan dan penjajagan pemasaran jasa transportasi logistik udara dengan pesawat udara LCA60T dari Flying Whales.

Flying Whales adalah perusahaan Perancis yang berkantor pusat di Suresnes (Hauts-de-Seine), Paris. Perusahaan ini merintis pengembangan pesawat LCA60T sejak tahun 2012, dan diperkirakan produksi pertama dibuat pada tahun 2024, dan beroperasi secara komersial mulai tahun 2026.

Pesawat udara LCA60T mempunyai struktur badan yang kaku terbuat dari kerangka berbahan material komposit, yang ditutup dengan tekstil khusus, dilengkapi dengan sel-sel berisi gas helium untuk mengapungkan pesawat, dan digerakkan dengan propulsi hybrid. Dengan kapasitas angkut sebesar 60 ton, pesawat ini mampu terbang sejauh 1000 km dengan kecepatan 100km/jam.

transportasi logistik udara

Pesawat dengan ukuran panjang 200m dan diameter 50m ini mampu melakukan operasi bongkar muat barang sambil melayang statis (hovering),sehingga tidak memerlukan infrastruktur transportasi darat apapun selama beroperasi.

Operasi bongkar muat ini dimungkinkan melalui sistem derek di pesawat untuk memuat kargo di palka atau untuk mengangkut potongan material yang terlalu besar dengan sling, atau ditempelkan di bawah pesawat. Berkat propulsi hybridnya (nantinya akan sepenuhnya listrik) dan dengan titik propulsi yang berbeda, LCA60T mampu melakukan lepas landas secara vertikal.

Layanan Kami

transportasi logistik udara

Transportasi Kayu Balok

Tanpa perlu investasi untuk jalan dan biaya perawatan

Transportasi Bantuan

Transportasi bantuan kemanusiaan untuk daerah bencana

Transportasi Bilah-bilah PLT Bayu

Akses jalan sulit karena umumnya daerah terpencil

transportasi logistik udara

Transportasi Kontainer Ke Kapal Laut

Angkutan langsung tanpa perlu ganti moda darat

Transportasi Logistik Udara

Transportasi Rumah Sakit Portabel

Rs yang dapat berpindah ke daerah terpencil

transportasi logistik udara

Transportasi Tower tegangan ekstra tinggi (SUTET)

Pengiriman sudah dalam bentuk tower tinggal pasang

Frequently Asked Questions

FLYING WHALES menyiapkan solusi unik untuk angkutan kargo yang berat dan besar melalui pengembangan kapal udara LCA60T (Large Capacity Airship 60 ton).

LCA60T mampu memuat dan membongkar barang dalam kondisi berhenti di udara (hovering), sehingga tidak memerlukan infrastruktur transportasi apapun selama beroperasi.

Harapnnya menjadikan LCA60T sebagai salah satu sistem transportasi kargo udara untuk barang berat dengan emisi CO2 minimum.

Pembangunan ekonomi di dunia merupakan sumber bagi perbaikan kondisi kehidupan jutaan orang di bumi (akses ke pendidikan, kesehatan, perdamaian).
Namun pertumbuhan ekonomi juga memiliki dampak negatif bagi lingkungan. Bidang perdagangan sebenarnya dapat memberi beban lebih ringan kepada ekosistem, khususnya di sektor transportasi, melalui penemuan transportasi model baru.
Inilah yang ingin dilakukan oleh FLYING WHALES.

LCA60T adalah pesawat udara yang berbadan kaku (rigid airship). Pesawat ini menggunakan gas helium dengan volume yang cukup banyak (sekitar 200.000 m3) untuk mendapatkan daya angkat sehingga membuatnya tetap mengapung di udara. Tujuannya adalah untuk transportasi kargo udara dengan volume yang besar dan beban berat hingga 60 ton. Pesawat ini mampu melakukan operasi bongkar muat sambil melayang statis (hovering).
Operasi bongkar muat ini dimungkinkan melalui sistem derek di pesawat sehingga kami dapat melakukan muat kargo di palka atau mengangkut potongan material yang terlalu besar dengan sling, atau ditempelkan di bawah badan pesawat. Berkat propulsi hybridnya (nantinya akan sepenuhnya listrik) dan dengan titik propulsi yang berbeda, LCA60T lepas landas secara vertikal dan dapat melaju hingga kecepatan 100 km/jam.

LCA60T memang pesawat dengan badan yang kaku. Strukturnya yang kaku terbuat dari kerangka berbahan material komposit, yang ditutup dengan tekstil khusus.
Di dalam badan pesewat bersusun sel-sel berisi gas helium. Gas ini yang memungkinkan pesawat bisa terbang, atau lebih tepatnya “mengambang”, tanpa tenaga. Gas ini tidak bertekanan. Sebaliknya, pesawat udara yang “digembungkan”, juga disebut balon udara, dibentuk oleh tekanan gas yang meregangkan dinding selubungnya.
Struktur yang kaku memiliki beberapa keunggulan:
– Memungkinkan pemasangan sistem propulsi untuk memberikan daya dorong pada pesawat.
– Penyimpanan helium tak bertekanan di dalam sel membatasi risiko kebocoran.
– Memungkinkan distribusi muatan 60 ton yang lebih baik di dalam pesawat

LCA60T berukuran panjang 200 meter dan memiliki diameter 50 meter. Dengan dimensi ini akan menjadikannya sebagai pesawat terbesar di dunia, dengan panjang yang sebanding dengan 2 kali panjang lapangan bola. Tingginya lebih 15m dari Tugu Monas.

LCA60T bukanlah drone karena dikemudikan oleh pilot dari kokpit.

Ukuran kru dapat bervariasi dari satu misi ke misi lainnya tergantung pada durasi dan kompleksitas misi. Tetapi kru akan selalu terdiri dari setidaknya dua anggota kru: seorang pilot yang dilatih khusus oleh FLYING WHALES untuk menerbangkan LCA60T, dan seorang loadmaster yang misi utamanya adalah untuk memastikan kelancaran bongkar muat dalam penerbangan. Sesuai kebutuhan khusus
misi, tim yang lebih besar dapat dibentuk, terutama dengan mengkoordinasikan beberapa pilot.

Ada sistem yang membantu pilot untuk hovering turunkan dan naikkan kargo.

Bahan bakar awalnya dipakai untuk menggerakkan sistem propulsi hybrid, yang kemudian akan segera diganti
dengan sistem pembangkit energi non-termal, salah satunya sel bahan bakar hidrogen. Konsumsi bahan bakar
tergantung pada banyak faktor seperti cuaca, kecepatan penerbangan atau skenario misi (jumlah pertukaran muatan, jarak yang harus ditempuh, dll.).
Kami perkirakan konsumsi bahan bakar dan angka emisi setidaknya 10 hingga 30 kali lebih rendah daripada helikopter.

Misi standar LCA60T adalah pada jarak maksimal 1000 km, artinya 10 jam waktu penerbangan. Waktu terbang operasional pesawat dapat disesuaikan dengan jenis misi dengan kemungkinan memperpanjang durasi misi melebihi 10 jam.